DISCOURSE BY LINE

THE GOOD, THE BAD, AND NOTHING

ReviewReviewMaster Mister Ahmad DhaniOct 8, '07 5:55 AM
for everyone
Category:Music
Genre: Miscellaneous
Artist:The Rock
Usaha menjadi ras dominan bersama para bule tanpa status lewat lagu-lagu
daur ulang.

Ahmad Dhani, maksud saya Mister Master Ahmad Dhani tentulah memiliki strategi khusus saat menelurkan album dibawah bendera The Rock bersama tiga bule Australia yang sebelumnya tak punya nama sama sekali itu. Jika tujuannya hendak menuai rupiah lewat lagu pop yang mudah dicerna pasar usaha itu berhasil. Single “Munajat Cinta” berhasil menjadi pesaing komposisi band–band yang selama ini dianggap Ahmad Dhani tak bermutu. Namun jika kita menyimak komposisi lagu tersebut Dhani ternyata telah mencapai tataran turun kelas. Selera Dhani makin terperosok menjauh.

Di album ini hampir semua lagu ditampilkan dengan balutan drum mesin yang memang menjadi koleksi sang Master. Termasuk lagu cukup bagus “Kamu Kamulah Surgaku” dan “Aku Bukan Siapa Siapa.” Dan lebih parah lagi ternyata album ini lebih banyak berisi karya-karya lama dari sang Master.

Bagaimana kemudian Dhani membawakan lagi lagu “Dimensi” dan “Aku Cinta Kau Dan Dia” dari proyek Ahmad Band yang jauh lebih bermutu dari proyek The Rock ini. Atau “Kasidah Cinta” dan “Rahasia Perempuan” (dipopulerkan Ari Lasso) yang kembali dibawakan dengan gaya swing dan big band seolah Dhani adalah Frank Sinatra. Swing dengan logat jawa.

Ini proyek paling aneh dan absurd dari seorang cerdik dan jenius seperti Ahmad Dhani. Jika hendak memakai nama The Rock, terasa sekali elemen rock sangat minim. Tapi betul juga kata seorang teman, jika melihat aksi live Dhani yang selalu memakai rok saat mangung bersama The Rock. Rasanya nama The Rock memang tepat untuk memberi penanda proyek absurd ini.

ReviewReviewReviewReviewTak Hanya DiamOct 8, '07 5:37 AM
for everyone
Category:Music
Genre: Pop
Artist:Padi
Arek-arek Surabaya ini kembali sadar untuk kembali ringan dan segar

Jika Anda salah satu yang ingin menunggu album yang diharapkan menjadi penyelamat dari deretan pencetak lagu pop menye-menye yang makin bertebaran dan meraih penjualan dan aksi TV yang berlebihan Anda boleh bernafas lega. Padi telah menyelesaikan album kelima mereka. Menjadi penyelamat daripada melihat yang itu-itu saja bukan?

Apa yang tersimak dari album ini adalah kembali lugasnya Padi dalam bersikap dan mencipta komposisi. Sebuah bentuk kesegaran harmoni dengan tataran konsep musikal yang tidak berpretensi sok berwacana. Musik yang ditampilkan menjual paduan vibe yang menarik.

Simak bagaimana “Sang Penghibur” yang kabarnya akan menjadi single perdana tampil dengan alur yang begitu gemilang memberi kesegaran dan makna seperti apa pop itu dikemas jumawa tanpa harus bersembah sujut pada melodi mendayu. Intro yang mengawang dengan sinkopasi yang menawan. Itu kunci lagu ini.

Balada “Sebelum Terlambat” seperti memperjelas signature yang sudah lekat dengan Padi. Vokal Fadly akan gampang memberi lagu ini sebuah penghayatan yang bisa jadi cuma tepat dinyanyikan oleh dirinya. Lagu yang berpotensi menjadi mega hits Padi di album ini akan membawa bentuk pencapaian yang berhasil dihasilkan di lagu seperti “Mahadewi” atau “Semua Tak Sama.”

Namun ada satu lagu yang seharusnya Piyu jangan ikut memberi kontribusi pada sisi vokal. Lagu “Harmoni” yang seharusnya akan menjadi sequel “Kasih Tak Sampai” dibawakan oleh Piyu dengan penghayatan yang kurang maksimal. Lagu ini seharusnya menjadi milik Fadly. Biarkan Fadly menuntun dan membawa emosi lagu tersebut ke porsi yang seharusnya memang menjadi miliknya.

Di lagu “Aku Bisa Menjadi Kekasih” Padi tampil dengan intro bergaya reggae sesaat yang kemudian menjadi irama swing ditingkahi ketukan ritmis dan ditutup coda bernuansa rock lengkap dengan sinkopasi rock yang tampaknya sudah dilupakan oleh band-band pop bahkan rock saat ini.

Ada juga lagu karya Rindra yang liriknya dibuat oleh Fadly berjudul “Tetaplah Bernyanyi”. Lagu ini menarik karena dibagian refrain liriknya saling sambung menjadi satu kesatuan. Komposisi “Terluka” bisa jadi lagu paling heavy dari semua lagu yang dikemas di album kelima Padi ini. Lagu ini sempat dicoba di beberapa panggung Padi. Mungkin lagu ini seperti “Menerobos Gelap” tapi lebih light dan tanpa warna suram. Beat ritmik nan enerjik menjadi kekuatan lagu ini. Plus tentunya double pedal dari Yoyok memberi energi maksimal akan pondasi lagu ini.

Dan kembali saya akui, vokal Fadly kembali segar. Kembali bisa berteriak tinggi seperti saat duet dengan almarhum Ivan Scumbag di lagu "..." di album Berkarat.
Baiklah. Ini bukan album terbaik Padi, namun mereka telah memberi bukti bahwa musik yang baik dan benar dan bermutu telah kembali dilahirkan oleh mereka.

ReviewReviewReviewReviewZeitgeistJul 20, '07 6:34 AM
for everyone
Category:Music
Genre: Rock
Artist:Smashing Pumpkins
Saya tidak sepakat dengan seorang teman. Menurutnya Zeitgeist dari Smashing Pumpkins terlalu sederhana untuk band yang pernah merilis masterpiece seperti Siemese Dreams dan Mellon Collie and the Infinite Sadness. Teman saya itu fans berat Smashing Pumpkins. Ekspektasi yang besar diharapkan bagi “setengah reuni” dari Smashing Pumpkins ini. Teman saya tidak salah.

Semoga saya juga tidak salah jika menyukai Zetgeist. Bagi saya album ini bernilai bintang empat (****). Spin memberi bintang tiga (***). Blender memberi bintang empat (***). Rolling Stone Amerika lewat David Fricke memberi bintang empat (****).

Kontroversi dari kualitas album Zeitgeist memang langsung melebar. Banyak fans dan kritikus yang pro dan kontra. Karya-karya akhir dari Corgan dianggap “sampah”. Dan tak mencerminkan kecerdasan untuk kepala yang bisa merilis Siemese Dreams dan Mellon Collie and the Infinite Sadness. Diantaranya: Album solo Corgan (The Future Embrace), Zwan, atau Machina dan Adore menjadi periode merosotnya Corgan.

Tapi “Doomsday Clock” langsung memberi kejutan di detik pertama Zetgeist diputar. Chamberlain kembali memberi bentuk groove pada karya Corgan ini. Atau pada “That’s The Way (My Love Is)” yang memberi ruang gerak instrumen pada lagu penuh dengan distorsi pekat yang menggulung. Namun Corgan berhasil meleburkan suaranya dalam gulungan komposisi. Menjadi penyeimbang. Menarik.

Atau “Tarantula” yang menjadi single perdana. Lagu ini masih pekat akan nyawa Smashing Pumpkins. Saya merasa Corgan menemukan kembali imajinasi dan daya kreasi songwriting yang menjadi kekuatan bagi karya-karya awal Smashing Pumpkins.

Saya menyukai “Starz”. Lagu paling bagus di Zeitgest menurut saya. Atau “Neverlost” yang mengawang dengan ketukan-ketukan drum Chamberlain yang menjadi signature kuat di lagu ini. Zeitgeist bagi saya tidak sia-sia. Menjadi playlist yang tak membosankan dalam dua minggu ini. Bagaimana menurut Anda?


ReviewReviewReviewReviewZeitgeist Jul 20, '07 5:52 AM
for everyone
Category:Music
Genre: Rock
Artist:Smashing Pumpkins
Zero: That is the exact number of doubts singer-guitarist-songwriter Billy Corgan has about this controversial resurrection of his old band. "I never felt so right and good. . . . You'll never need another sound," he crows in that bleating voice against the titanic fuzz of "Bring the Light." It is classic Corgan bravado, but the cumulative effect of his distortion-orchestra guitar and drummer Jimmy Chamberlin's pinpoint thunder is impressive and convincing, a return to the big pop-wise din of 1993's Siamese Dream. Original members James Iha and D'Arcy Wretzky are not part of this reunion, but they were hardly on Siamese Dream – Corgan played their guitar and bass parts.
By that standard, Zeitgeist, performed entirely by Corgan and Chamberlin, is a Pumpkins record – and a good one. Lyrically, Zeitgeist is the least self-absorbed record Corgan has ever written, although not quite the electric newspaper some song titles suggest. There is more fear of frying than actual fight and social remedy in "Doomsday Clock" and "For God and Country," the latter sounding more like Corgan's pledge of allegiance to the Cure. The closest thing to victory over Dick Cheney is the promise in "Starz" – "We cannot die. . . . We are stars/We are" – which rocks better than it reads, with Robert Fripp-like snakes of guitar and a closing frenzy of staccato power chords and Chamberlin pummeling his cymbals into splinters.

The best thing about Zeitgeist is that Corgan is back to what he does best: hard-rock architecture. His wall-of-guitars overdubs are exhilarating in their details: the harmonized squeals in "7 Shades of Black"; the creeping buzz of "Tarantula"; the long, howling solo, sinking in echo, in "United States." The Pumpkins were never more exciting in the Nineties than when Corgan unleashed his inner Tony Iommi all over his inner Robert Smith. That is what happens on Zeitgeist, which makes it a strong new start for Corgan and Chamberlin, no matter what they call themselves.



DAVID FRICKE

(Posted: Jul 18, 2007)


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help